HARI itu, seseorang menjumpai UMAR BIN ABDUL AZIZ. Khalifah dari Bani Umaiyyah yang sangat terkenal itu. Didapatinya Umar sedang menangis. Sendirian.
“Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin?” tanya orang itu dengan hati-hati. “Bukankah engkau telah menghidupkan banyak sunnah dan menegakkan keadilan?” tanya orang itu lagi dengan nada menghibur.
Umar masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda ia akan berhenti dari tangisnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia menyahut seraya berkata, ”Bukankah aku kelak akan dihadapkan pada pengadilan Allah, kemudian aku ditanya tentang rakyatku. Demi Allah, kalau benar aku telah berbuat adil terhadap mereka, aku masih mengkhawatirkan diri ini. Khawatir kalau diri ini tidak dapat menjawab pertanyaan seandainya banyak hak rakyatku yang aku zalimi?”
Air mata Umar terus mengalir dengan derasnya. Tidak lama berselang setelah hari itu, Umar menghadap Allah SWT. Ia pergi untuk selama-lamanya.
29 Ogos 2014
PANTUN BERKAT
Umur tak berkat jika melambat-lambatkan solat,
Harta juga tak berkat jika tidak di keluarkan zakat;
Keberkatan umur tak dapat di ukur atau di sukat,
Keberkatan harta renung-fikir dari mana dapat.
Harta juga tak berkat jika tidak di keluarkan zakat;
Keberkatan umur tak dapat di ukur atau di sukat,
Keberkatan harta renung-fikir dari mana dapat.
copy & paste
UNGKAPAN ROMANTIS LEWAT HUKUM TAJWID
Saat pertama kali berjumpa denganmu...aku bagaikan bertemu dengan SAKTAH...hanya bias terpana...dengan menahan nafas sebentar. Aku di matamu mungkin bagaikan NUN MATI di antara IDGHAM MAAL GHUNNAH...terlihat...tapi dianggap tiada. Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti IZHAR...jelas dan terang. Sejenak pandangan kita bertemu...lantas tiba-tiba semuanya itu seperti IDGHAM MUTAMAASILAIN...melebur menjadi satu.
Cintaku padamu umpama MAD LAZIM...paling panjang di antara yang lain. Setelah kau terima cintaku...hatiku seperti QALQALAH KUBRO...terpantul-pantul dengan keras. Dan akhirnya...setelah lama kita bersama...cinta kita seperti IQLAB...ditandai dengan dua hati yang menyatu. Sayangku padamu seperti MAD TOBI'IE dalam Al-Quran...banyakkkkk.....!!!
Semoga dalam hubungan kita ini...seperti IDGHAM BILAGHUNNAH...cuma berdua...Lam dan Ro'. Layaknya seperti WAQAF MUANNAQAH...hanya boleh berhenti di salah satunya...kau atau aku??? Meskipun perhatianku terlihat sembunyi seperti ALIF LAM SYAMSIAH...namun cintaku padamu seperti ALIF LAM QOMARIAH...terbaca jelas.
Kau dan aku seperti IDGHAM MUTAJANISAIN...perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya...tapi berlainan sifatnya. Aku harap cinta kita umpama WAQAF LAZIM...terhenti sempurna di akhir hayat. Sama halnya dengan MAD ARIDH...di mana tiap mad bertemu LIN SUKUN ARIDH akan terhenti...seperti itulah pandanganku ketika melihatmu. Layaknya hukum TAFKHIM...begitulah namamu bercetak tebal di hatiku. Umpama hokum IMALAH yang dikhususkan untuk Ro' saja...begitulah juga aku yang hanya untukmu...
Semoga aku menjadi yang terakhir untukmu...seperti MAD ARIDH LISSUKUN....
Sumber : TG Dato' Tuan Ibrahim Bin Tuan Man
Cintaku padamu umpama MAD LAZIM...paling panjang di antara yang lain. Setelah kau terima cintaku...hatiku seperti QALQALAH KUBRO...terpantul-pantul dengan keras. Dan akhirnya...setelah lama kita bersama...cinta kita seperti IQLAB...ditandai dengan dua hati yang menyatu. Sayangku padamu seperti MAD TOBI'IE dalam Al-Quran...banyakkkkk.....!!!
Semoga dalam hubungan kita ini...seperti IDGHAM BILAGHUNNAH...cuma berdua...Lam dan Ro'. Layaknya seperti WAQAF MUANNAQAH...hanya boleh berhenti di salah satunya...kau atau aku??? Meskipun perhatianku terlihat sembunyi seperti ALIF LAM SYAMSIAH...namun cintaku padamu seperti ALIF LAM QOMARIAH...terbaca jelas.
Kau dan aku seperti IDGHAM MUTAJANISAIN...perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya...tapi berlainan sifatnya. Aku harap cinta kita umpama WAQAF LAZIM...terhenti sempurna di akhir hayat. Sama halnya dengan MAD ARIDH...di mana tiap mad bertemu LIN SUKUN ARIDH akan terhenti...seperti itulah pandanganku ketika melihatmu. Layaknya hukum TAFKHIM...begitulah namamu bercetak tebal di hatiku. Umpama hokum IMALAH yang dikhususkan untuk Ro' saja...begitulah juga aku yang hanya untukmu...
Semoga aku menjadi yang terakhir untukmu...seperti MAD ARIDH LISSUKUN....
Sumber : TG Dato' Tuan Ibrahim Bin Tuan Man
26 Jun 2014
BUNGKUS & ISI
"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
"Keluarga bahagia" itu isinya...
"Keluarga bahagia" itu isinya...
"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...
"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...
"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...
"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...
"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...
Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...
Sumber: copy & paste
Kuat...tapi..
★ BESI itu kuat,
tapi API mampu meleburkannya
☆ API itu kuat,
☆ API itu kuat,
tapi AIR mampu memadamkannya
★ AIR itu kuat,
★ AIR itu kuat,
tapi AWAN mampu menyerapnya
☆ AWAN itu kuat,
☆ AWAN itu kuat,
tapi ANGIN mampu menolaknya
★ ANGIN itu kuat,
★ ANGIN itu kuat,
tapi BUKIT mampu menghalanginya
☆ BUKIT itu kuat,
☆ BUKIT itu kuat,
tapi MANUSIA mampu menghancurkannya
★ MANUSIA itu kuat,
★ MANUSIA itu kuat,
tapi NAFSU mampu menundukannya
☆ NAFSU itu kuat,
☆ NAFSU itu kuat,
tapi IMAN mampu mengalahkannya
Tapi bila IMAN KUAT,
Tapi bila IMAN KUAT,
tiada apa yang mampu mengalahkannya
Ya ALLAH...
Ya ALLAH...
Kuatkan IMAN kami
di mana saja kami berada...
Aamiin...
PESONA AKHLAK RASULULLAH SAW
Suatu ketika Rasulullah SAW berjalan di Kota Makkah. Beliau melihat seorang wanita tua menunggu seseorang yang boleh diminta tolong membawakan barangnya.
Sebaik saja Rasulullah SAW lalu di depannya, ia memanggil, “Ya ahlal Arab! Tolong bawakan barang ini, nanti akan kubayar.”
Rasulullah SAW sengaja lalu di hadapan nenek itu kerana berhasrat hendak menolongnya. Ketika Rasulullah SAWmenghampirinya, beliau segera mengangkat barang-barang itu lalu berkata, “Aku akan mengangkatkan barangmu tanpa bayaran.”
Nenek tua itu amat senang mendengar perkataan tersebut kerana selama ini amat jarang orang membantunya tanpa bayaran. Biasanya, walaupun tidak meminta, tetapi jika dia memberi bayaran, orang dengan senang hati akan menerimanya. Dia memandang wajah Rasulullah SAW yang bersih dan tenang. Dia yakin anak muda yang menolongnya kini adalah seorang pemuda yang berbudi luhur.
Di tengah perjalanan, wanita itu menasihati Rasul. “Khabarnya di Kota Makkah ini ada seorang yang mengaku nabi, namanya Muhammad. Hati-hatilah engkau dengan orang itu. Jangan sampai engkau terperdaya dan mempercayainya.”
Nenek tua itu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang menolongnya dan kini bersamanya adalah Muhammad Rasulullah.
Maka, Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Aku ini Muhammad ...”
Nenek tua itu terperanjat apabila mengetahui pemuda yang menolongnya adalah Muhammad yang diceritakannya. Maka, pada saat itu juga nenek itu langsung meminta maaf dan bersyahadat. Ia pun kemudian memuji akhlak Rasul. “Sungguh engkau memiliki akhlak yang luhur.”
Sumber : copy & paste
Sebaik saja Rasulullah SAW lalu di depannya, ia memanggil, “Ya ahlal Arab! Tolong bawakan barang ini, nanti akan kubayar.”
Rasulullah SAW sengaja lalu di hadapan nenek itu kerana berhasrat hendak menolongnya. Ketika Rasulullah SAWmenghampirinya, beliau segera mengangkat barang-barang itu lalu berkata, “Aku akan mengangkatkan barangmu tanpa bayaran.”
Nenek tua itu amat senang mendengar perkataan tersebut kerana selama ini amat jarang orang membantunya tanpa bayaran. Biasanya, walaupun tidak meminta, tetapi jika dia memberi bayaran, orang dengan senang hati akan menerimanya. Dia memandang wajah Rasulullah SAW yang bersih dan tenang. Dia yakin anak muda yang menolongnya kini adalah seorang pemuda yang berbudi luhur.
Di tengah perjalanan, wanita itu menasihati Rasul. “Khabarnya di Kota Makkah ini ada seorang yang mengaku nabi, namanya Muhammad. Hati-hatilah engkau dengan orang itu. Jangan sampai engkau terperdaya dan mempercayainya.”
Nenek tua itu sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang menolongnya dan kini bersamanya adalah Muhammad Rasulullah.
Maka, Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Aku ini Muhammad ...”
Nenek tua itu terperanjat apabila mengetahui pemuda yang menolongnya adalah Muhammad yang diceritakannya. Maka, pada saat itu juga nenek itu langsung meminta maaf dan bersyahadat. Ia pun kemudian memuji akhlak Rasul. “Sungguh engkau memiliki akhlak yang luhur.”
Sumber : copy & paste
22 Jun 2014
Aduhai hati....
tenang hatiku tenang
jangan menangis lagi
biar luka semalam
terus berlalu pergi
sabar hatiku sabar
reda takdir Ilahi
kasih takkan pudar
duka jangan kembali
24 Mei 2014
Langgan:
Catatan (Atom)


